15. Sore Terakhir
Raka terdiam.
Bukan karena ia tak punya jawaban, tapi karena ia tahu bahwa satu kalimat salah saja bisa menghancurkan semuanya.
"Jawab Raka," Nadine memohon. "Aku harus bagaimana?"
"..."
"Maaf kalau semua yang saya lakukan membuat Mbak Nadine merasa seperti itu sama saya," Raka menunduk, merasa tak enak. "Saya benar- benar hanya ingin melihat Mbak Nadine tersenyum. Tidak lebih."
Satu titik air kembali mengalir dari sudut mata Nadine. Jadi memang benar bahwa ini semua cuma perasaannya sendiri?
"Tapi, kalau boleh jujur—" Raka menarik nafas, seperti bersiap mengungkapkan sesuatu.
"Mbak Nadine adalah satu- satunya tamu yang membuat saya seperti ini. Saya juga merasakan hal yang sama seperti Mbak."
Sebuah senyum tipis tergurat di wajah Nadine. "Jadi, memang benar ada sesuatu kan di antara kita?"
Raka kembali diam.
Lalu menggeleng.
"Saya rasa tidak mungkin bisa."
Senyum di wajah Nadine seketika menghilang.
Raka berjalan mendekat, membuat suara saat ia melangkah di air. "Saya hanya mencoba berpikir realistis."
"Maksudnya?"
"Saya sudah banyak mendengar sendiri cerita teman- teman saya, sesama guide. Bagaimana kebersamaan selama liburan membuat ada sesuatu di antara mereka dan tamunya.
Dan lalu semua menghilang begitu saja saat liburan selesai."
"..."
"Hubungan yang singkat, emosi sesaat," Raka berhenti, membuat jarak dengan Nadine. "Saya bukan orang seperti itu. Dan Mbak Nadine nggak pantas diperlakukan seperti itu."
Nadine menggigit bibir, menahan perasaan.
"Saya cuma anak nelayan, yang kebetulan saja menjadi personal guide. Sedangkan Mbak Nadine?" Raka mengangkat bahunya. "Kehidupan kita sangat berbeda."
"Karena itu saja?" tanya Nadine. "Dan kamu memilih mundur?"
"Saya ingin Mbak berpikir lebih panjang," Raka berujar lirih. "Mbak Nadine datang ke sini dalam keadaan 'rapuh'. Pikiran Mbak sedang tidak jernih. Jika dipaksakan untuk terus, saya yakin ini tidak akan berkembang seindah yang Mbak kira."
"Kalau tidak di coba, mana bisa tahu Raka?"
"Coba tanyakan lagi sama hati Mbak sendiri," Raka hanya tersenyum tipis. "Am I really that person?"
Satu pertanyaan itu seketika membuat Nadine terdiam. Membuat gadis itu terpaku memandang Raka, yang membentuk siluet karena membelakangi matahari terbenam.
"Am I just your replacement?" tanya Raka lagi.
"And I definitely don't wanna be your escape."
Nadine menunduk dengan mata basah. Kini ia menjadi ragu dengan perasannya sendiri. Jika ia memaksakan ini dan akhirnya di tengah jalan— ini tidak sesuai yang ia bayangkan, apakah ia akan membuang Raka begitu saja?
Benarkah ia tidak hanya menjadikan Raka sebagai pelarian?
"Raka, aku.."
Raka kembali mendekat. Hingga tepat berada di hadapan Nadine. Tinggi keduanya yang hampir sejajar membuat mereka saling bertatapan mata.
Raka menatap pantulan matahari terbenam pada iris Nadine.
"Hari ini adalah sore terakhir Mbak Nadine di sini."
"..."
"Saya tentu nggak ingin, sore terakhir Mbak di Segare justru membawa kenangan buruk saat Mbak kembali ke Singapore," Raka meraih pergelangan Nadine, mengangkatnya.
"Subahnale yang ada di tanganmu, adalah doa dari—" ucapan Raka terjeda. "Eh, siapa yang membuatkanmu ini?"
Nadine tertawa kecil bersama mata basahnya. "Manda."
"Manda ya?" Raka berdehem. "Ini adalah doa dari Manda, agar Mbak Nadine tak mudah menyerah, sama seperti kegigihan Manda untuk menyelesaikan pola tenun rumit ini."
Nadine mengangguk.
"Sudah setahun Mbak merasa hancur, dan itu wajar. Itu manusiawi," tambah Raka. "Tapi, sama seperti nama Mbak—"
Nadine menyipitkan mata. "Namaku?"
"Amirta—Immortal. Abadi. Mbak nggak seharusnya terus- terusan terpuruk. Seharusnya Mbak bangkit lagi," Raka menggenggam tangan Nadine.
Nadine terdiam memandangi tangannya yang digenggam Raka, dengan gelang tenun Subahnale melingkar di pergelangan.
"Circle of Life?"
"Not exactly," Raka menggeleng. "I mean— zombies."
"Sialan," Nadine cemberut, mengusap matanya yang basah. Ia masih terisak, namun merasakan ada sesuatu yang berbeda dalam perasaannya.
Lega.
Setidaknya, kini tak ada lagi rasa mengganjal dalam hati. Bahwa esok, jika ia pergi meninggalkan Segare pun, tak ada lagi yang akan memberatkannya.
Ia pun menarik nafas panjang, mengisi paru- parunya dengan aroma asin laut di tengah temaram. Dan kemudian tersenyum kepada Raka.
Yang sekali lagi, membuat Raka terpaku beberapa saat.
"Lihat kan, Mbak Nadine cantik kalau senyum."
"Aku nggak cantik," Nadine menggeleng, menyentuh luka panjang di wajah kanannya. "Nggak sempurna."
"Mereka yang bilang tidak sempurna, karena melihat Mbak dengan luka itu sebagai fokusnya," ujar Raka mengajak Nadine kembali menuju villanya karena langit sudah hampir gelap total. "Sedangkan saya melihat Mbak Nadine sebagai— yah, Mbak Nadine."
"..."
"Ketidak sempurnaan Mbak, adalah yang membuat Mbak sempurna."
Nadine memejamkan matanya, tersenyum, merasakan hangat di dalam dada.
Keduanya berjalan menjejak pasir, berhenti di tangga villa Nadine.
"Terima kasih, Raka," lirih Nadine di sela angin laut yang mulai semilir. "Kamu bikin perasaanku tenang sekarang."
Raka mengangguk pelan. "Saya juga terima kasih, Mbak Nadine mau mengerti."
"..."
"Makan malam kali ini, mau dibawakan ke sini?" tanya Raka. "Atau Mbak Nadine mau ikut saya ke rumah Ina Baiq? Aku rasa Manda juga ada di sana."
"Iya," sahut Nadine. "Aku ikut."
Bukan karena ia tak punya jawaban, tapi karena ia tahu bahwa satu kalimat salah saja bisa menghancurkan semuanya.
"Jawab Raka," Nadine memohon. "Aku harus bagaimana?"
"..."
"Maaf kalau semua yang saya lakukan membuat Mbak Nadine merasa seperti itu sama saya," Raka menunduk, merasa tak enak. "Saya benar- benar hanya ingin melihat Mbak Nadine tersenyum. Tidak lebih."
Satu titik air kembali mengalir dari sudut mata Nadine. Jadi memang benar bahwa ini semua cuma perasaannya sendiri?
"Tapi, kalau boleh jujur—" Raka menarik nafas, seperti bersiap mengungkapkan sesuatu.
"Mbak Nadine adalah satu- satunya tamu yang membuat saya seperti ini. Saya juga merasakan hal yang sama seperti Mbak."
Sebuah senyum tipis tergurat di wajah Nadine. "Jadi, memang benar ada sesuatu kan di antara kita?"
Raka kembali diam.
Lalu menggeleng.
"Saya rasa tidak mungkin bisa."
Senyum di wajah Nadine seketika menghilang.
Raka berjalan mendekat, membuat suara saat ia melangkah di air. "Saya hanya mencoba berpikir realistis."
"Maksudnya?"
"Saya sudah banyak mendengar sendiri cerita teman- teman saya, sesama guide. Bagaimana kebersamaan selama liburan membuat ada sesuatu di antara mereka dan tamunya.
Dan lalu semua menghilang begitu saja saat liburan selesai."
"..."
"Hubungan yang singkat, emosi sesaat," Raka berhenti, membuat jarak dengan Nadine. "Saya bukan orang seperti itu. Dan Mbak Nadine nggak pantas diperlakukan seperti itu."
Nadine menggigit bibir, menahan perasaan.
"Saya cuma anak nelayan, yang kebetulan saja menjadi personal guide. Sedangkan Mbak Nadine?" Raka mengangkat bahunya. "Kehidupan kita sangat berbeda."
"Karena itu saja?" tanya Nadine. "Dan kamu memilih mundur?"
"Saya ingin Mbak berpikir lebih panjang," Raka berujar lirih. "Mbak Nadine datang ke sini dalam keadaan 'rapuh'. Pikiran Mbak sedang tidak jernih. Jika dipaksakan untuk terus, saya yakin ini tidak akan berkembang seindah yang Mbak kira."
"Kalau tidak di coba, mana bisa tahu Raka?"
"Coba tanyakan lagi sama hati Mbak sendiri," Raka hanya tersenyum tipis. "Am I really that person?"
Satu pertanyaan itu seketika membuat Nadine terdiam. Membuat gadis itu terpaku memandang Raka, yang membentuk siluet karena membelakangi matahari terbenam.
"Am I just your replacement?" tanya Raka lagi.
"And I definitely don't wanna be your escape."
Nadine menunduk dengan mata basah. Kini ia menjadi ragu dengan perasannya sendiri. Jika ia memaksakan ini dan akhirnya di tengah jalan— ini tidak sesuai yang ia bayangkan, apakah ia akan membuang Raka begitu saja?
Benarkah ia tidak hanya menjadikan Raka sebagai pelarian?
"Raka, aku.."
Raka kembali mendekat. Hingga tepat berada di hadapan Nadine. Tinggi keduanya yang hampir sejajar membuat mereka saling bertatapan mata.
Raka menatap pantulan matahari terbenam pada iris Nadine.
"Hari ini adalah sore terakhir Mbak Nadine di sini."
"..."
"Saya tentu nggak ingin, sore terakhir Mbak di Segare justru membawa kenangan buruk saat Mbak kembali ke Singapore," Raka meraih pergelangan Nadine, mengangkatnya.
"Subahnale yang ada di tanganmu, adalah doa dari—" ucapan Raka terjeda. "Eh, siapa yang membuatkanmu ini?"
Nadine tertawa kecil bersama mata basahnya. "Manda."
"Manda ya?" Raka berdehem. "Ini adalah doa dari Manda, agar Mbak Nadine tak mudah menyerah, sama seperti kegigihan Manda untuk menyelesaikan pola tenun rumit ini."
Nadine mengangguk.
"Sudah setahun Mbak merasa hancur, dan itu wajar. Itu manusiawi," tambah Raka. "Tapi, sama seperti nama Mbak—"
Nadine menyipitkan mata. "Namaku?"
"Amirta—Immortal. Abadi. Mbak nggak seharusnya terus- terusan terpuruk. Seharusnya Mbak bangkit lagi," Raka menggenggam tangan Nadine.
Nadine terdiam memandangi tangannya yang digenggam Raka, dengan gelang tenun Subahnale melingkar di pergelangan.
"Circle of Life?"
"Not exactly," Raka menggeleng. "I mean— zombies."
"Sialan," Nadine cemberut, mengusap matanya yang basah. Ia masih terisak, namun merasakan ada sesuatu yang berbeda dalam perasaannya.
Lega.
Setidaknya, kini tak ada lagi rasa mengganjal dalam hati. Bahwa esok, jika ia pergi meninggalkan Segare pun, tak ada lagi yang akan memberatkannya.
Ia pun menarik nafas panjang, mengisi paru- parunya dengan aroma asin laut di tengah temaram. Dan kemudian tersenyum kepada Raka.
Yang sekali lagi, membuat Raka terpaku beberapa saat.
"Lihat kan, Mbak Nadine cantik kalau senyum."
"Aku nggak cantik," Nadine menggeleng, menyentuh luka panjang di wajah kanannya. "Nggak sempurna."
"Mereka yang bilang tidak sempurna, karena melihat Mbak dengan luka itu sebagai fokusnya," ujar Raka mengajak Nadine kembali menuju villanya karena langit sudah hampir gelap total. "Sedangkan saya melihat Mbak Nadine sebagai— yah, Mbak Nadine."
"..."
"Ketidak sempurnaan Mbak, adalah yang membuat Mbak sempurna."
Nadine memejamkan matanya, tersenyum, merasakan hangat di dalam dada.
Keduanya berjalan menjejak pasir, berhenti di tangga villa Nadine.
"Terima kasih, Raka," lirih Nadine di sela angin laut yang mulai semilir. "Kamu bikin perasaanku tenang sekarang."
Raka mengangguk pelan. "Saya juga terima kasih, Mbak Nadine mau mengerti."
"..."
"Makan malam kali ini, mau dibawakan ke sini?" tanya Raka. "Atau Mbak Nadine mau ikut saya ke rumah Ina Baiq? Aku rasa Manda juga ada di sana."
"Iya," sahut Nadine. "Aku ikut."
Other Stories
Cinta Di 7 Keajaiban Dunia
Menjelang pernikahan, Devi dan Dimas ditugaskan meliput 7 keajaiban dunia. Pertemuan Devi ...
Death Cafe
Sakti terdiam sejenak. Baginya hantu gentayangan tidak ada. Itu hanya ulah manusia usil ...
Hafidz Cerdik
Jarum jam menunjuk di angka 4 kurang beberapa menit ketika Adnan terbangun dari tidurnya ...
Tukar Pasangan
Ratna, wanita dengan hiperseksualitas ekstrem, menyadari suaminya Ardi berselingkuh dengan ...
Impianku
ini adalah sebuah cerita tentang impianku yang tertunda selama 10 tahun ...
Manusia Setengah Siluman
Reno tak pernah tahu apa itu arti punya orang tua. Ia seorang yatim piatu yang berjuang hi ...